By: Rumi
Everyone
has eaten and fallen asleep. The house is empty. We walk out to the
garden to let the apple meet the peach, to carry messages between rose
and jasmine.
Spring is Christ,
Raising martyred plants from their shrouds.
Their mouths open in gratitude, wanting to be kissed.
The glow of the rose and the tulip means a lamp is inside.
A leaf trembles. I tremble in the wind-beauty like silk from Turkestan.
The censer fans into flame.
This wind is the Holy Spirit.
The trees are Mary.
Watch how husband and wife play subtle games with their hands.
Cloudy pearls from Aden are thrown across the lovers,
as is the marriage custom.
The scent of Joseph’s shirt comes to Jacob.
A red carnelian of Yemeni laughter is heard
by Muhammad in Mecca.
We talk about this and that. There’s no rest except on these branching moments.
– Jalaluddin Rumi (from The Essential Rumi, by Coleman Barks)
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 23 Juli 2017
Aku Melihat Indonesia
Oleh: Soekarno
Jika aku berdiri di pantai Ngliyep
Aku mendengar lautan Indonesia bergelora
Membanting di pantai Ngeliyep itu
Aku mendengar lagu – sajak Indonesia
Jikalau aku melihat
Sawah menguning menghijau
Aku tidak melihat lagi
Batang padi menguning – menghijau
Aku melihat Indonesia
Jika aku melihat gunung-gungung
Gunung Merapi, gunung Semeru, gunung Merbabu
Gunung Tangkupan Prahu, gunung Klebet
Dan gunung-gunung yang lain
Aku melihat Indonesia
Jikalau aku mendengar pangkur palaran
Bukan lagi pangkur palaran yang kudengarkan
Aku mendengar Indonesia
Jika aku menghirup udara ini
Aku tidak lagi menghirup udara
Aku menghirup Indonesia
Jika aku melihat wajah anak-anak di desa-desa
Dengan mata yang bersinar-sinar
(berteriak) Merdeka! Merdeka!, Pak! Merdeka!
Aku bukan lagi melihat mata manusia
Aku melihat Indonesia!
(Dari buku: Bung Karno dan Pemuda)
Jika aku berdiri di pantai Ngliyep
Aku mendengar lautan Indonesia bergelora
Membanting di pantai Ngeliyep itu
Aku mendengar lagu – sajak Indonesia
Jikalau aku melihat
Sawah menguning menghijau
Aku tidak melihat lagi
Batang padi menguning – menghijau
Aku melihat Indonesia
Jika aku melihat gunung-gungung
Gunung Merapi, gunung Semeru, gunung Merbabu
Gunung Tangkupan Prahu, gunung Klebet
Dan gunung-gunung yang lain
Aku melihat Indonesia
Jikalau aku mendengar pangkur palaran
Bukan lagi pangkur palaran yang kudengarkan
Aku mendengar Indonesia
Jika aku menghirup udara ini
Aku tidak lagi menghirup udara
Aku menghirup Indonesia
Jika aku melihat wajah anak-anak di desa-desa
Dengan mata yang bersinar-sinar
(berteriak) Merdeka! Merdeka!, Pak! Merdeka!
Aku bukan lagi melihat mata manusia
Aku melihat Indonesia!
(Dari buku: Bung Karno dan Pemuda)
Ganjuran Pagi Itu
Di sini, saat ini
Kuberdoa dalam keheningan
Bersama suara gesekan sapu
Jejeritan riang anak-anak, dan deru
Mesin kendaraan di kejauhan
Doa-doaku tergesa dan terburu
Seperti cericit burung-burung di pucuk
-pucuk ranting cemara. Riuh. Ribut. Tak tau apa yg dituju.
Tarikan napasku tak tenang, Ya Tuhan.
Kala kulantunkan puji, "Tuhan adalah gembalaku.."
Benarkah Engkau gembalaku?
Benarkah Engkau Tuhanku?
Bersediakah aku?
Lilin-lilin terbaik akan terbakar habis
Daun-daun terindah akan layu dan tersapu
Kesadaran itu menuntun langkahku menaiki candiMu. Ada patungMu. Ada tanganMu menunjuk hatiMu
Ada tangan yg menunjuk hatiku
Bersediakah kamu membuka hatimu dan menerima cintaKu? Ada pertanyaan itu.
-Ganjuran, 27 Juni 2017-
Senin, 23 Januari 2012
Rumahku Sudah Tenang
Rumahku Sudah Tenang
Puisi karya GP Sindhunata SJ
Lama aku mengembara
menembus malam gulita
tersasar-sasar mengikuti indra
di mana Kau berada
ketika aku membutuhkan pelita?
Hasratku akan terang ditelan kegelapan
bulan pudar dalam paha-paha gemilang
aku tak berdaya bergelintang
didera kenikmatan indra tak kunjung padam
dimana Kau ketika airmataku berlinang-linang?
Aku mandi dalam minyak wangi
nafasku sesak menggelayut dalam sunyi
jerit hatiku mengaduh tiada henti
dimana Kau yang kucari-cari
saat hatiku tak sabar lagi menanti.
Kucari diriMu dengan gelora nafsu
seakan Kau adalah kekasihku
yang terbaring hangat di bawah selimutku
dengan nafas memburu kupeluk diriMu
ternyata hanya bayang-bayang palsu yang kutemu.
Lama aku mengembara dalam gulita
sampai akhirnya Kaulumpuhkan segala gairah indra
aku terperangah tanpa hasrat dan daya
punah sudah nafsu untuk bercinta
segala nikmat indra lenyap binasa.
Tiba-tiba Kau datang dengan beribu bunga
dan Kausampaikan untaian kata-kata:
Tak mungkin kau mengembara dalam gulita
bila Aku tak menjadi dian dan pelita
di tengah kau hancur diinjak-injak dosa.
Malam-malam di belakangku
tiba-tiba berpendaran dengan terang bintang-Mu.
Dalam kembara gulita sesungguhnya aku bermata seribu:
Mata Kekasihku yang rela menderita bersamaku
di saat aku tak mampu lagi melihat langit yang biru.
Betapa indah malam-malam yang telah berlalu
kendati harus kulewati dengan sesak isak tangisku
indah karena sesungguhnya Kau selalu bersamaku
justru ketika dosa dan kegelapan meliputi aku
sampai putus sudah harapanku.
Sekarang Kau jumpai aku dengan hati yang baru
saat padam sudah hasrat indra dan nafsuku
betapa beruntung aku
mendapati diriku mandi dalam fajar cinta-Mu
dan lihatlah, sudah tenanglah sekarang rumahku.
*
Kolese Ignatius, Yogyakarta
Menjelang peringatan 25 tahun imamat GP Sindhunata SJ
Natal, 25 Desember 2008
Puisi ini terinspirasi oleh puisi Die dunkle Nacht
Malam Gelap, dari Santo Yohanes dari Salib
Puisi karya GP Sindhunata SJ
Lama aku mengembara
menembus malam gulita
tersasar-sasar mengikuti indra
di mana Kau berada
ketika aku membutuhkan pelita?
Hasratku akan terang ditelan kegelapan
bulan pudar dalam paha-paha gemilang
aku tak berdaya bergelintang
didera kenikmatan indra tak kunjung padam
dimana Kau ketika airmataku berlinang-linang?
Aku mandi dalam minyak wangi
nafasku sesak menggelayut dalam sunyi
jerit hatiku mengaduh tiada henti
dimana Kau yang kucari-cari
saat hatiku tak sabar lagi menanti.
Kucari diriMu dengan gelora nafsu
seakan Kau adalah kekasihku
yang terbaring hangat di bawah selimutku
dengan nafas memburu kupeluk diriMu
ternyata hanya bayang-bayang palsu yang kutemu.
Lama aku mengembara dalam gulita
sampai akhirnya Kaulumpuhkan segala gairah indra
aku terperangah tanpa hasrat dan daya
punah sudah nafsu untuk bercinta
segala nikmat indra lenyap binasa.
Tiba-tiba Kau datang dengan beribu bunga
dan Kausampaikan untaian kata-kata:
Tak mungkin kau mengembara dalam gulita
bila Aku tak menjadi dian dan pelita
di tengah kau hancur diinjak-injak dosa.
Malam-malam di belakangku
tiba-tiba berpendaran dengan terang bintang-Mu.
Dalam kembara gulita sesungguhnya aku bermata seribu:
Mata Kekasihku yang rela menderita bersamaku
di saat aku tak mampu lagi melihat langit yang biru.
Betapa indah malam-malam yang telah berlalu
kendati harus kulewati dengan sesak isak tangisku
indah karena sesungguhnya Kau selalu bersamaku
justru ketika dosa dan kegelapan meliputi aku
sampai putus sudah harapanku.
Sekarang Kau jumpai aku dengan hati yang baru
saat padam sudah hasrat indra dan nafsuku
betapa beruntung aku
mendapati diriku mandi dalam fajar cinta-Mu
dan lihatlah, sudah tenanglah sekarang rumahku.
*
Kolese Ignatius, Yogyakarta
Menjelang peringatan 25 tahun imamat GP Sindhunata SJ
Natal, 25 Desember 2008
Puisi ini terinspirasi oleh puisi Die dunkle Nacht
Malam Gelap, dari Santo Yohanes dari Salib
bagaimana bisa kutolak cintamu?
aku mencarimu dan kau temukan diriku
aku berjalan menujumu dan kau berlari menyambutku
aku berkata, “ku tak pantas mendapat cintamu.” dan kau memelukku
Bagaimana bisa kutolak cintamu?
Kau lebih mengenalku daripada aku
Kau lebih percaya padaku daripada aku
Kau lebih mencintaku daripada aku
Bagaimana bisa kutolak cintamu?
Kau bakar dirimu untuk menerangiku
Kau teteskan darahmu sebagai petunjuk jalanku
Kau lebur dirimu agar menyatu denganku
Bagaimana bisa kutolak cintamu?
Tapi rajaku,
cahaya cintamu menyilaukanku
Membuatku semakin terlihat hina dihadapanmu
Bagaimana bisa kubalas cintamu? Bagaimana agar aku pantas berada di hatimu?
aku berjalan menujumu dan kau berlari menyambutku
aku berkata, “ku tak pantas mendapat cintamu.” dan kau memelukku
Bagaimana bisa kutolak cintamu?
Kau lebih mengenalku daripada aku
Kau lebih percaya padaku daripada aku
Kau lebih mencintaku daripada aku
Bagaimana bisa kutolak cintamu?
Kau bakar dirimu untuk menerangiku
Kau teteskan darahmu sebagai petunjuk jalanku
Kau lebur dirimu agar menyatu denganku
Bagaimana bisa kutolak cintamu?
Tapi rajaku,
cahaya cintamu menyilaukanku
Membuatku semakin terlihat hina dihadapanmu
Bagaimana bisa kubalas cintamu? Bagaimana agar aku pantas berada di hatimu?
Illalang
Ilalang
David Wirawan - (Vids)
Aku hanya sekumpulan ilalang,
Aku ada bukan karena diundang
Aku tumbuh tanpa ada yg pandang
Aku tumbuh meninggi, ingin merasakan sang surya dan desiran angin
Tapi saat itu aku tahu aku umurku sudah dekat
Aku akan dihabisi karena aku hanya dianggap pengganggu
Tiada yang melihat keindahanku
Tubuhku kurus tinggi dan memang tidak menarik
Aku tidak menghasilkan sesuatu yang berguna
Aku hanya bisa berharap,
Aku bisa dihargai, aku bisa dipandang
Aku hanya ingin bermimpi
Kehadiranku bisa dirasakan
Cobalah, duduk di dekatku
Dengarkanlah desiran musik angin yang hadir karena gesekan tubuh-tubuhku
Pandanglah lenturnya aku menghadapi angin yang kuat
Lihatlah pancaran keemasan bungaku dihampiri sinar sang surya
Kecantikanku tidak tersembunyi
Keindahanku terpana setiap hari,
Aku hanya butuh kau lebih bisa melihatku, lebih lama berdiri di sisiku
Hanya berada didekatku dan bersamaku kau akan mengerti keindahanku
Saat kau ada, aku malah seakan tiada
Saat kau tiada aku merasa ada
Dalam lubuk hatiku, aku senang dikau datang
Tapi aku tahu kau hanya akan melalui dan menyakitiku.
Aku akan tetap menunggu sampai kau bisa benar benar bisa melihatku.
Aku hanya sekumpulan ilalang
Ijinkan aku juga bisa membuat suatu rasa dalam hidupmu.
David Wirawan - (Vids)
Aku hanya sekumpulan ilalang,
Aku ada bukan karena diundang
Aku tumbuh tanpa ada yg pandang
Aku tumbuh meninggi, ingin merasakan sang surya dan desiran angin
Tapi saat itu aku tahu aku umurku sudah dekat
Aku akan dihabisi karena aku hanya dianggap pengganggu
Tiada yang melihat keindahanku
Tubuhku kurus tinggi dan memang tidak menarik
Aku tidak menghasilkan sesuatu yang berguna
Aku hanya bisa berharap,
Aku bisa dihargai, aku bisa dipandang
Aku hanya ingin bermimpi
Kehadiranku bisa dirasakan
Cobalah, duduk di dekatku
Dengarkanlah desiran musik angin yang hadir karena gesekan tubuh-tubuhku
Pandanglah lenturnya aku menghadapi angin yang kuat
Lihatlah pancaran keemasan bungaku dihampiri sinar sang surya
Kecantikanku tidak tersembunyi
Keindahanku terpana setiap hari,
Aku hanya butuh kau lebih bisa melihatku, lebih lama berdiri di sisiku
Hanya berada didekatku dan bersamaku kau akan mengerti keindahanku
Saat kau ada, aku malah seakan tiada
Saat kau tiada aku merasa ada
Dalam lubuk hatiku, aku senang dikau datang
Tapi aku tahu kau hanya akan melalui dan menyakitiku.
Aku akan tetap menunggu sampai kau bisa benar benar bisa melihatku.
Aku hanya sekumpulan ilalang
Ijinkan aku juga bisa membuat suatu rasa dalam hidupmu.
Antara Kita Ada
Antara kita ada puisi
sunyi yang tak lagi dihargai
dianggap sepi
Kapan lagi kita terpukau permainan cahaya
pada bayang-bayang menjelma raksasa, kuntilanak, dewa
Kapan lagi kita terlena pada nada senja
pada senyum ramah di sudut kota, pantai, rumah
Kita terus berlari, berlari, entah mengapa, entah mengejar siapa, entah karena apa
cuma kerumunan di depan itu telah berlari, jadi kita harus mengikuti, harus mengikuti
harus mengikuti
Rasanya nyaris seperti kerumunan laron di musim hujan
keluar dari sarang dan kebingungan
saat satu mendekati cahaya
lainnya mengikuti
dan mati
Antara kita ada puisi, tak lagi kita hargai, dianggap sepi,
sesepi tawa saat sadari hidup ini sendiri
sunyi yang tak lagi dihargai
dianggap sepi
Kapan lagi kita terpukau permainan cahaya
pada bayang-bayang menjelma raksasa, kuntilanak, dewa
Kapan lagi kita terlena pada nada senja
pada senyum ramah di sudut kota, pantai, rumah
Kita terus berlari, berlari, entah mengapa, entah mengejar siapa, entah karena apa
cuma kerumunan di depan itu telah berlari, jadi kita harus mengikuti, harus mengikuti
harus mengikuti
Rasanya nyaris seperti kerumunan laron di musim hujan
keluar dari sarang dan kebingungan
saat satu mendekati cahaya
lainnya mengikuti
dan mati
Antara kita ada puisi, tak lagi kita hargai, dianggap sepi,
sesepi tawa saat sadari hidup ini sendiri
Kalau
kalau kau sempat menengok catatan ini...
aku bisa minta saranmu tidak?
bagaimana caranya mengakhiri hubungan dengan indah,
tanpa air mata duka yang terlalu lama,
hanya ucapan selamat jalan
dan terima kasih....
kalau kau sempat merasakannya, atau mengalaminya, mungkin kau bisa bercerita padaku, bagaimana caramu melakoninya?
aku tidak ingin menyakiti siapapun...
aku hanya tau, jalan yang kutempuh ini tidak lagi menuju padanya. Semakin jauh langkahku, semakin tertinggal dia di rumahnya. Dan mungkin aku tidak bisa lagi menjemputnya.
aku menyakitinya ya.....
aku tidak mengharapkan dia menungguku sampai menjadi batu. aku berharap, dan sangat berharap dia bahagia.
Dan aku bisa melihat sebenarnya hubungan jarak jauh ini tidak akan bisa membahagiakan dia.
aku bisa minta saranmu tidak?
bagaimana caranya mengakhiri hubungan dengan indah,
tanpa air mata duka yang terlalu lama,
hanya ucapan selamat jalan
dan terima kasih....
kalau kau sempat merasakannya, atau mengalaminya, mungkin kau bisa bercerita padaku, bagaimana caramu melakoninya?
aku tidak ingin menyakiti siapapun...
aku hanya tau, jalan yang kutempuh ini tidak lagi menuju padanya. Semakin jauh langkahku, semakin tertinggal dia di rumahnya. Dan mungkin aku tidak bisa lagi menjemputnya.
aku menyakitinya ya.....
aku tidak mengharapkan dia menungguku sampai menjadi batu. aku berharap, dan sangat berharap dia bahagia.
Dan aku bisa melihat sebenarnya hubungan jarak jauh ini tidak akan bisa membahagiakan dia.
Doa-doa Saya yang Tak Terucapkan
Saya minta kesehatan, supaya saya dapat berbuat hal-hal yang lebih besar,
saya diberi kelemahan, supaya saya dapat berbuat hal-hal yang lebih baik.
Saya minta kekayaan, supaya saya dapat bahagia,
saya diberi kemiskinan, supaya saya menjadi bijaksana.
Saya minta kekuasaan, supaya saya mendapatkan pujian banyak orang,
saya diberi kerapuhan, supaya saya merasakan kebutuhan akan Tuhan.
Saya minta semua hal, supaya saya gembira atas hidup ini,
saya diberi kehidupan, supaya saya gembira atas semua hal.
Saya tidak mendapatkan sesuatu pun yang saya minta,
tetapi segala sesuatu yang saya harapkan.
Meskipun keadaan saya demikian ini,
doa-doa saya yang tak terucapkan dikabulkan.
Saya adalah satu di antara semua orang yang sangat diberkati.
(doa yang ditemukan di saku seorang tentara sekutu yang meninggal)
saya diberi kelemahan, supaya saya dapat berbuat hal-hal yang lebih baik.
Saya minta kekayaan, supaya saya dapat bahagia,
saya diberi kemiskinan, supaya saya menjadi bijaksana.
Saya minta kekuasaan, supaya saya mendapatkan pujian banyak orang,
saya diberi kerapuhan, supaya saya merasakan kebutuhan akan Tuhan.
Saya minta semua hal, supaya saya gembira atas hidup ini,
saya diberi kehidupan, supaya saya gembira atas semua hal.
Saya tidak mendapatkan sesuatu pun yang saya minta,
tetapi segala sesuatu yang saya harapkan.
Meskipun keadaan saya demikian ini,
doa-doa saya yang tak terucapkan dikabulkan.
Saya adalah satu di antara semua orang yang sangat diberkati.
(doa yang ditemukan di saku seorang tentara sekutu yang meninggal)
Langganan:
Postingan (Atom)


